KAWAH DI NEGERI KAHYANGAN

Tempat pariwisata yang paling banyak adalah di daerah Dieng. Secara administrasi, kawasan Dieng terbagi menjadi dua wilayah administrasi yaitu Dieng barat merupakan wilayah Dieng Kulon, kecamatan Batur, kabupaten Banjarnegara dan Dieng timur (Dieng Wetan) kecamatan Kejajar, kabupaten Wonosobo. Kawasan ini terletak sekitar 26 km di sebelah utara kota Wonosobo. Jalannya yang berkelak-kelok dan menanjak, serta banyak terdapat jurang dan tikungan tajam. Dengan ketinggian itu membuat suhunya semakin rendah, dan kadang-kadang aroma segar akan samar-samar diwarnai bau belerang, terutama di sekitar kawah. Di kawasan itu masih banyak terdapat kawah aktif. Dari kejauhan kawasan Dieng tampak seperti puncak gunung yang patah sehingga menyisakan dataran dengan banyak kawah. Itulah sebabnya Dieng dinamai dengan Plateau yang berarti dataran di atas pegunungan. Karena dikelilingi oleh gugusan gunung antara lain Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Perahu, Gunung Rogojembangan, dan Gunung Bismo Dieng yang merupakan kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan sebagai gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah.      

Menurut para ahli, nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Di” yang berarti tempat yang tinggi atau gunung, dan “Hyang” yang berarti ruh leluhur/dewa-dewa. Hyang juga sering dimaknai sebagai kahyangan/nirwana/syurga, artinya tempat bersemayamnya para dewa dan dewi atau merupakan kata depan untuk menghormati seseorang/leluhur bisa berupa dewa-dewa yang selalu identik dengan kondisi alam yang tinggi. Maka Dieng berarti daerah pegunungan dimana para dewa dewi bersemayam. Suatu tempat dimana manusia mencoba berhubungan atau mencari jalan agresi bentuk-bentuk hubungan dengan “langit primordial” keilahian. Sehingga daerah dataran tinggi yang ketinggian rata-rata sekitar 2000 m diatas permukaan laut dan suhunya sekitar 15-20oC disiang hari dan 10oC dimalam hari, sedang pada musim kemarau (Juli-Agustus), suhu udara dapat mencapai 0oC dipagi hari, sering dianggap sebagai “negeri di atas awan”.

Dieng dalam konteks pemaknaan dan penafsirannya (hermes), ketika berangkat dari konteks ke”aeng”annya (keunikannya) akhirnya menjadi tempat wisata, termasuk wisata spiritual atau wisata mistik. Karena Dieng memiliki aneka peninggalan purbakala, yang bersifat “aeng”, serba unik dan aneh yang cukup banyak. Dari sekian banyak cagar alam di Dieng yang dijadikan obyek wisata, ada satu tempat wisata yang membuatku penasaran akan asal usul terjadinya obyek tersebut, yaitu Kawah Sikidang. Lalu saya cari tentang kisahnya, dan ternyata kawah ini menyimpan legenda yang unik dan menarik, meskipun bau belerangnya sangat menyengat.

Terjadinya Kawah Sikidang, menurut legenda yang hidup di tengah masyarakat ternyata dilatarbelakangi oleh sebuah kisah cinta seorang raja yang berakhir tragis.
Dahulu kala, sebelum terjadinya kawah, di daerah tersebut hidup seorang ratu yang cantik dan terkenal, bernama Ratu Sintha Dewi. Karena kecantikannya, banyak pemuda menaruh hati. Bahkan, suatu saat Sang Ratu di datangi oleh seorang raja yang terkenal sakti, kaya raya, dan bertubuh tinggi besar. Namanya Raja Kidang Garungan. Karena tertarik akan kecantikan Sang Ratu, Raja tersebut bermaksud meminang untuk dijadikan permaisuri. Mendengar ada seorang raja kaya dan sakti yang akan meminangnya, hati Ratu sangat gembira. Untuk mewujudkan harapannya, dengan cepat Sang Ratu keluar istana. Ia ingin melihat sang calon suami, apakah sesuai dengan keinginan hatinya atau tidak. Karena Raja Kidang Garungan berbadan tinggi besar, saat Ratu keluar yang dilihatnya pertama kali adalah mulai dari bagian kaki dan terus mendongak ke bagian atas. Akan tetapi, pada saat melihat kepala Sang Raja, Ratu sangat ketakutan dan menjadi tidak suka karena ternyata kepala Sang Raja bukannya kepala manusia seperti umumnya, melainkan kepala kijang (bahasa jawa: kidang), hanya tubuhnya saja yang berbentuk manusia.

Ratu sangat kecewa, tetapi ia tidak berani menolak pinangannya dikarenakan Sang Raja sangat sakti. Oleh karena itu, pada saat menjawab lamaran Sang Raja, Ratu pun bersiasat. Sebelum lamaran Sang Raja diterima, ia lebih dulu harus memenuhi syarat Sang Ratu, yaitu membuatkan sumur yang sangat dalam dihadapan Ratu dan tentaranya. Syarat itu disanggupi, dan Sang Raja langsung membuat sumur yang amat dalam dengan kesaktiannya. Akan tetapi, sekonyong-konyong Ratu beserta tentaranya langsung menimbun sumur itu dengan cepat. Tinggallah Sang Raja tertimbun di dalam lubang sumur yang dalam itu. Ia berusaha keluar, namun tidak bisa. Kemudian di dalam kemarahannya Sang Raja mengeluarkan kesaktiannya yang menyebabkan permukaan bumi/tanah bergetar dan terjadi ledakan yang membentuk kawah. Berkali-kali ia mencoba di lokasi yang berbeda, seolah tampak seperti jejak  hewan kijang yang melompat dan lari. Oleh karena itu, kawah ini diberi nama Kawah Sikidang (Sikijang).

Raja Kidang Garungan tetap di dalam sumur yang sangat dalam dan tidak bisa keluar akibat siasat Ratu Sintha Dewi. Karena murka dan kecewa, kemudian Sang Raja mengeluarkan kutukan bahwa seluruh keturunan Sang Ratu akan berambut gembel (gimbal). Sampai saat ini, di sekitar kawah Sikidang masih dapat ditemui anak-anak yang berambut gembel. Oleh keluarga dan masyarakat setempat, mereka ini mendapat perlakuan khusus dalam kehidupannya.

Menurut para pakar ahli juga, bahwa Kawah Sikidang (Kijang=bahasa jawa), secara semiologis dimaknai sebagaimana karakter kijang, yang selalu lincah meloncat atau artinya kita memanjangkan langkah dan meluruskan niat kita kembali. Sebelum melanjutkan atau melakukan ziarah rohani (spiritual) ini. Sebab dengan menengok Kawah Sikidang ini, kita akan mengetahui, apa sesungguhnya yang menjadi kebiasaan kijang, yakni hanya makan pupus (pucuk daun) saja. Secara semiologis dimaknai sebagai “mupus” (mengendalikan dan menghilangkan) segala nafsu dan keinginan duniawi tersebut. Kawah ini merupakan sebuah lubang kepundan yang selalu mengeluarkan gas dan cairan belerang panas (fumarol). Lubang kepundan kawah ini selalu berpindah-pindah suatu saat, sebagaimana namanya yang dinisbatkan pada seekor kijang.

Selain Kawah Sikidang, saya menyuguhkan kawah-kawah lain dalam bentuk vidio yang saya dapat dari seorang teman, sebagai penambahan wawasan. Karena Dieng merupakan gunung api aktif yang memiliki sedikitnya 20 kawah yang dipantau aktivitasnya. Namun hanya beberapa kawah yang rutin dipantau aktivitasnya.

sikidang

sumber : http://www.youtube.com/watch?v=-XtcS95-wbY

Dalam rangka HUT Wonosobo, saya ucapkan “Selamat Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang ke 189”. Dengan harapan, agar Kabupaten Wonosobo terus mengembangkan obyek pariwisata yang ada didalamnya supaya bisa menambah devisa kabupaten dan tetap dilestarikan agar tidak punah. Karena Wonosobo mempunyai potensi wisata yang cukup banyak. Semoga Wonosobo menjadi terkenal dengan kearifan budayanya, baik dari obyek wisatanya maupun seni budayanya.

Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway #HariJadiWonosobo189

Giveaway #HariJadiWonosobo189

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s